WELCOME...*** Eva Harista BLOG

Bismillahirrohmanirrohiiiim….

Alhamdulillah, alladzi ‘allamana bil qalam, ‘allamal insana maa’lam ya’lam...
Puji syukur hamba semoga selalu tercurahkan pada Allah SWT, yang telah mengajari manusia dengan pena. Dia lah yang mengajari manusia apa yang tidak mereka ketahui...

Jumat, 23 Desember 2011

ANALISIS KONFLIK DALAM CERPEN

Pengertian dan macam-macam jenis konflik
Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Wellek & Warren, 1989: 285). Dua kelas ini satu sama lain tidak bisa saling menyesuaikan kehendak, usaha dan maksud-maksudnya. Konflik adalah sesuatu yang tidak menyenangkan (konotasi yang negatif). Itulah sebabnya orang lebih suka memilih menghindari konflik dan menghendaki kehidupan yang tenang.
Akan tetapi, suatu karya sastra seperti novel atau cerpen jika tidak terdapat konflik maka alur ceritanya akan terasa datar dan tidak indah. Untuk itu penulis biasanya selalu memunculkan beragam konflik dalam sebuah cerita, sehingga cerita tersebut akan terasa bermakna bagi siapa pun yang membacanya. Intinya dengan adanya konflik, bisa membuat para pembaca ingin terus membaca cerita tersebut hingga selesai.
Menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2002:124) konflik dibedakan menjadi dua kategori, yaitu konflik internal dan eksternal.
1.        Konflik internal atau kejiwaan adalah konflik yang terjadi dalam hati jiwa seorang tokoh cerita. Jadi konflik ini adalah konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri.
2.        Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu dengan di luar dirinya.
Konflik eksternal ini oleh Jones (1968:30) dibedakan dalam dua kategori lagi, yaitu konflik fisik dan konflik social.
a.        Konflik fisik adalah konflik yang disebabkan oleh adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam.
b.        Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antar manusia.

Analisis Konflik Keluarga dalam cerpen “Ketika Harus Memilih”
Umumnya, konflik dalam kisah-kisah cerpen adalah konflik keluarga yang sebab terjadinya dan penyelesaiannya dilakukan dengan mudah. Hal ini seperti cerpen yang akan saya bahas dalam makalah ini yang berjudul “Ketika Harus Memilih” oleh Nani Mulyani, yang dibangun di dalam konflik suami istri dan diselesaikan dengan cara gampangan. Sehingga tidak membuat pembacanya “ger-getan” akan konflik yang dihadirkan.
Faktor-faktor timbulnya konflik dalam keluarga yang mengakibatkan timbulnya kegoncangan kemungkinan bersumber dari: (1) Suami isteri itu sendiri, (2) pengaruh negatif dari orang tua, (3) pengaruh dari anggota keluarga, dan (4) pengaruh dari luar (Solih, 1994:20).
Dalam suatu keluarga tidak ada yang tidak menghadapi masalah, terlepas dari siapa yang tidak melaksanakan kewajiban di antara suami isteri, namun seringkali terjadi ketidakpuasan di antara kedua belah pihak atau kedua-duanya merasa tidak puas, hal ini yang disebut dengan konflik.
Secara cerita, cerpen “Ketika Harus Memilih” sebenarnya bermuatan materi kisah keluarga yang cukup berharga, yaitu wujud keluarga terdidik di kota-kota besar atau kota metropolitan yang disibuki oleh karier dan egoisme, dengan materi yang berlimpah tapi muncul permasalahan dalam keluarga. Cerpen ini menyuguhkan tema yang sangat digemari kaum wanita.
Konflik keluarga dalam cerpen ini dibangun dari peristiwa sederhana dan merembet menjadi persoalan yang rumit . ceritanya cukup memikat , karena daya kisah yang selalu mendorong pembaca untuk tiba di akhir kisah,meski mungkin ending dalam cerita sudah bisa ditebak.
Kepergian Hernowo tidak menampakkan sikap bijaksana seorang diplomat dan kurang mencerminkan sifat orang terdidik yang telah mengenyam ilmu pengetahuan di perguruan tinggi. Yang mana di dalam cerpen ini tokoh Hernowo adalah seorang yang bekerja di Departemen Luar Negeri. Hernowo juga tidak memperlihatkan bahwa ia seorang ayah yang bijaksana, karena tindakannya meninggalkan rumah dan kembali kepada ibunya, hal ini menunjukkan bahwa ia kurang dewasa.
Dari segi tokoh istri (Ariani) juga kurang menampakkan karakter yang dewasa dari seorang istri dan ibu dalam membangun rumah tangga. Bukankah pernikahan adalah penyatuan dua karakter menjadi satu dan masing-masing pihak sudah sama mengetahui karakter masing-masing? Mengapa saat Hernowo akan ditugaskan di Italia sang istri, Ariani, justru menolak? Karena, pada saat yang bersamaan, ia juga telah menemukan apa yang diperjuangkannya dalam karier? Tetapi, bukankah mereka telah menikah selama bertahun-tahun dan Hernowo tidak mungkin mendapat kesempatan ditugaskan di luar negeri tanpa disiapkan oleh waktu-waktu yang panjang? Dengan dibangunnya konflik karena ketidaksiapan sang istri mengikuti tugas suaminya, tampaknya konflik inilah yang dibangun oleh penulis, yang merupakan konflik internal pada tokoh Ariani. Dalam cerpen ini konflik lain juga seperti konflik eksternal yaitu konflik social dalam keluarga.
Tumpuan kisah pada Ariani dan Cicin anaknya sebenarnya dapat dibangun sebuah cerita yang memperlihatkan kekuatan dan kemampuan wanita dalam membela keluarganya. Sebagai wanita karier, Ariani mampu memperlihatkan kekuatan jiwa seorang wanita yang pada dasarnya dapat mandiri tanpa bantuan lelaki. Namun, dalam kisahan yang panjang tentang Ariani, ia bukanlah wanita yang sepenuhnya mampu berdikari, karena ia sebenarnya bukanlah wanita karier yang sesungguhnya. Ia tetap saja seorang ibu rumah tangga dan seorang istri. Dengan kepergian Hernowo, ia merasa kehilangan dan khawatir tidak mampu mengatasi anak-anak yang kehilangan figure seorang ayah. Dari sinilah terjadi konflik internal dalam tokoh Ariani.

Dalam cerpen ini, masalah keluarga memang merupakan masalah kemanusiaan. Namun, cara penggarapan konflik yang terlalu disederhanakan membuat persoalan yang sangat sensitive dan berharga menjadi hal yang tidak menarik. Mungkin penulis menyajikan cerpen ini sesuai dengan satu sifat dari fiksi populer yaitu penyelesaian yang romantic dan diakhiri secara mengembirakan, seperti dongeng, karena tujuan utama fiksi populer adalah menghibur para pembaca.
“Ketika Harus Memilih” menampakkan kemampuan pengarang menyusun plot dan merangkai cerita yang runtut dan memikat, dengan pengakhiran yang menyenangkan, karena suami istri yang tadinya tenggelam dalam konflik dapat mengatasi persoalan mereka. Sang suami kembali kepada istri dan anak-anaknya serta cinta suami-istri itu semakin besar dengan adanya peristiwa tersebut. Inilah segi-segi indah dari ending cerpen tersebut.

PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA ANAK


Pengertian Pemerolehan Bahasa
Ada beberapa hipotesis tentang asal mula bahasa dihubungkan dengan pemerolehan bahasa pada anak. E. Cassier (dalam Abdul Chaer, 1994: 65) berpendapat bahwa pada dasarnya bahasa merupakan pengungkapan gagasan serta ekspresi perasaan atau emosinya. Ia berpendapat bahwa jeritan-jeritan yang keluar dari seorang anak (bayi) merupakan ungkapan emosionalnya.
Istilah pemerolehan merupakan padanan kata acquisition. Istilah ini dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama sebagai salah satu perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir. Secara alamiah anak akan mengenal bahasa sebagai cara berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Bahasa pertama yang dikenal dan selanjutnya dikuasai oleh seorang anak disebut bahasa ibu (Mother talk).
Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah suatu proses yang diperlukan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai ia memilih berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang baik serta paling sederhana dari bahasa (Abdul Chaer, 1994: 66).

Proses Pemerolehan Bahasa Pertama Anak
Pemerolehan bahasa pertama anak tentunya melalui tahapan-tahapan yang sedemikian rupa sehingga bahasa mereka menjadi fasih. Adapun proses pemerolehan bahasa pertama anak menurut Abdul Chaer (2003; 25) yaitu sebagai berikut.
a.    Kompetensi
Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantic) secara tidak disadari. Kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki performansi dalam berbahasa.
b.    Performansi
Performansi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Performansi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar, sedangkan proses penerbitan melibatkan kemampuan menghasilkan kalimat-kalimat sendiri.
 Proses Perkembangan Kata dan Kalimat dalam Pemerolehan Bahasa Pertama Anak
Menurut Schaerlaekens dikutip dari Dariyo (artikel: 2010), psikologi perkembangan anak tiga tahun pertama terdapat tiga tahap perkembangan kalimat pada anak usia lima tahun pertama yaitu sebagai berikut.
a.    Periode Prelingual (usia 0-1 tahun)
Periode ini ditandai dengan kemampuan bayi untuk mengoceh sebagai cara berkomunikasi dengan orangtuanya. Pada saat itu bayi tampak pasif menerima stimulus eksternal yang diberikan oleh orangtuanya, tetapi bayi mampu memberikan respons yang berbeda-beda terhadap stimulus tersebut, misalnya bayi akan tersenyum terhadap orang yang dianggapnya ramah dan akan menangis dan menjerit kepada orang yang dianggap ditakutinya.
b.    Periode Lingual Dini (usia 1-1,5 tahun)
Periode ini ditandai dengan kemampuan anak dalam membuat kalimat satu kata maupun dua kata dalam suatu percakapan dengan orang lain. Periode ini terbagi atas tiga tahap yaitu sebagai berikut.
1)    Periode kalimat satu kata yaitu kemampuan anak untuk membuat kalimat yang hanya terdiri dari satu kata yang mengandung pengertian secara menyeluruh dalam suatu pembicaraan.
2)    Periode kalimat dua kata yaitu periode perkembangan bahasa yang ditandai dengan kemampuan anak membuat kalimat dua kata sebagai ungkapan komunikasi dengan orang lain.
3)    Periode kalimat lebih dari dua kata yaitu periode perkembangan bahasa yang ditandai dengan kemampuan anak untuk membuat kalimat secara sempurna sesuai dengan susunan SPO.

c.    Periode Diferensiasi (usia 2,5 – 5 tahun)
Periode ini ditandai dengan kemampuan anak untuk menguasai bahasa sesuai dengan aturan tata bahasa yang baik dan sempurna yaitu kalimatnya terdiri dari subyek, predikat dan objek. Perbendaharaan katanya pun sudah berkembang baik dari segi kualitas dan kuantitas.

Peran Keluarga dalam Pemerolehan Bahasa Pertama Anak
Semua makhluk hidup memiliki bahasa masing-masing sebagai bahasa komunikasi mereka. Menurut Jo Ann Brewer dalam Introduction to early childhood education, sixth edition, dikatakan bahwa “language is defined as a system of communication used by human. It is either produced orally or by sign, and it can be extended to its written form. Jadi bahasa adalah sebuah system komunikasi yang dipakai oleh manusia baik berupa bahasa lisan, maupun tulisan.
Orang tua dan lingkungan mempunyai andil besar terhadap pemerolehan bahasa anak. Dijelaskan dalam aliran behavioristik Tolla (dalam Indrawati, dkk, 2005) bahwa proses penguasaan bahasa pertama dikendalikan dari luar, yaitu oleh rangsangan yang disodorkan melalui lingkungan.
Tarigan (dalam Indrawati, dkk, 2005) mengemukakan bahwa anak mengemban kata dan konsep serta mahkluk social. Tarigan memadukan bahwa konsep pemerolehan belajar anak berasal dari konsep kognitif serta perkembangan social anak itu sendiri. Adapun perkembangan social itu sendiri tidak terlepas dari factor orang-orang yang kehadirannya ada di lingkungan diri anak. Orang–orang yang dimaksud adalah teman, saudara dan yang paling dekat adalah kedua orangtua yaitu ayah serta ibunya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan oleh kedua orang tua sebagai orang yang pertama kali dekat dengan diri anak ketika menerima bahasa pertama sangat berdampak terhadap anak dalam tahapan pemerolehan bahasa kedua.
Pemerolehan bahasa pertama anak adalah bahasa ibu karena bahasa itulah yang diperolehnya pertama kali. Pemerolehan bahasa pertama terjadi apabila seorang anak yang semula tanpa bahasa kini ia memperoleh bahasa (Safarina, dkk, 2006: 157). Bagi anak, orang tua merupakan tokoh identifikasi. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika mereka meniru hal-hal yang dilakukan orang tua (Fachrozi, dkk, 2005: 147).
Anak serta merta akan meniru apapun yang ia tangkap di keluarga dan lingkungannya sebagai bahan pengetahuannya yang baru terlepas apa yang didapatkannya itu baik atau tidak baik. Citraan orang tua menjadi dasar pemahaman baru yang diperolehnya sebagai khazanah pengetahuannya artinya apa saja yang dilakukan orang tuanya dianggap baik menurutnya. Apapun bahasa yang diperoleh anak dari orang tua dan lingkungannya tersimpan di benaknya sebagai konsep perolehan bahasa anak itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang tua dalam berbahasa di dalam keluarga (bahasa ibu) sangat dicermati anak untuk ditirukan. Anak bersifat meniru dari semua konsep yang ada dilingkungannya.

Teori tentang Pemerolehan Bahasa Pertama
Abdul Chaer (2003) menjelaskan ada empat teori tentang pemerolehan bahasa, yaitu sebagai berikut.
1.    Teori Behaviorisme oleh B.F Skinner
Pendekatan behavioristik berfokus pada aspek-aspek yang bisa ditangkap langsung dari perilaku linguistik respons yang bisa diamati secara nyata dan berbagai hubungan atau kaitan antara respons-respons itu dan peristiwa-peristiwa di dunia sekeliling mereka. Adapun isi teori behaviorisme dalam pemerolehan bahasa pertama yaitu sebagai berikut.
a.    Teori behaviorisme mulanya adalah teori belajar dalam psikologi yang telah muncul sejak awal 1940-an sampai 1950-an. John B. Watson dianggap sebagai pelopor utama dalam teori ini.
b.    Otak bayi waktu dilahirkan sama sekali seperti kertas kosong (tabularasa), yang nanti akan diisi dengan pengalaman-pengalaman.
c.    Bagi mereka istilah bahasa menyiratkan suatu wujud, sesuatu yang dimiliki dan digunakan, dan bukan sesuatu yang dilakukan. Itulah sebabnya mereka menyebutnya dengan perilaku verbal yang kemudian konsep tersebut tertuang dalam bukunya B.F Skinner yang berjudul Verbal Behaviour (1957).
d.    Kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungannya dan anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya.
e.    Kekurangan teori ini adalah tidak mampu menjelaskan proses pemerolehan bahasa itu sendiri dan factor kreatifitas dalam penggunaan bahasa serta bagaimana kompetensi bahasa digunakan untuk membuat dan memahami kalimat baru yang belum pernah didengarnya.
f.     Bagi kaum behaviorism bahwa belajar bahasa dan perkembangannya hanyalah persoalan bagaimana mengkondisikan anak dengan cara imitation, practice, reinforcement, and habituation, yang merupakan langkah pemerolehan bahasa.
g.    Dalam pengajaran bahasa, behaviorisme mengembangkan metode drill atau memperbanyak latihan baik dalam bentuk lisan atau tulisan.

2.    Teori Nativisme oleh Chomsky
Pemahaman teori nativisme oleh Chomsky yaitu sebagai berikut.
a.    Nativisme berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa pertama, anak sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan.
b.    Chomsky mengatakan bahwa bahasa terlalu kompleks untuk dipelajari dalam waktu dekat melalui metode imitation seperti anggapan kaum behaviorisme.
c.    Menurut Chomsky bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, karena perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetic).
d.    Pemerolehan bahasa bukan didasarkan pada nurture (pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan tetapi pada nature. Artinya anak memperoleh bahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai tabularasa, tetapi telah dibekali dengan innate properties (bekal kodrati) yaitu faculties of the mind yang salah satu bagiannya khusus untuk memperoleh bahasa yaitu “Language Acquisition Device”.

3.    Teori Kognitivisme
Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu cirri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi.
Menurut kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya  memahami dunia melalui indranya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung.

4.    Teori Interaksionisme
Teori ini beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara masukan dan kemampuan internal yang dimiliki pembelajar. Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Namun, tanpa ada masukan yang sesuai tidak mungkin anak dapat menguasai bahasa tertentu secara otomatis.
Menurut hemat penulis, factor intern dan ekstern dalam pemerolehan bahasa pertama oleh sang anak sangat mempengaruhi. Benar jika ada teori yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa anak telah ada sejak lahir (telah ada LAD). Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai penemuan seperti yang telah dilakukan oleh Howard Gardner. Dia mengatakan bahwa sejak lahir anak telah dibekali berbagai kecerdasan. Salah satu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan berbahasa. Akan tetapi, yang tidak dapat dilupakan adalah lingkungan juga factor yang mempengaruhi kemampuan berbahasa si anak.






FONETIK SECARA UMUM

Fonetik dan Bidang Kajiannya
Fonetik merupakan bidang kajian ilmu pengetahuan (science) yang menelaah bagaimana manusia menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dalam ujaran, menelaah gelombang-gelombang bunyi bahasa yang dikeluarkan, dan bagaimana alat pendengaran manusia menerima bunyi-bunyi bahasa untuk dianalisis oleh otak manusia (O’Connor, 1982: 10-11), (Ladefoged, 1982: 1). Menurut Gorys Keraf (1978), fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi dengan alat ucap manusia.
Menurut Clark dan Yallop (1990), fonetik merupakan bidang yang berkaitan erat dengan kajian bagaimana cara manusia berbahasa serta mendengar dan memproses ujaran yang diterima. Lebih lanjut, fonetik ini sangat berguna untuk tujuan-tujuan seperti pengajaran diksi, penguasaan ujaran bunyi-bunyi bahasa asing, perbaikan kualitas bertutur bagi mereka yang menghadapi masalah kurang daya pendengarannya.
Secara umum, fonetik dapat dibagi menjadi tiga bidang kajian, yaitu fonetik fisiologis, fonetik akustik, dan fonetik auditoris atau fonetik persepsi (Dew dan Jensen, 1977:19).


  1. Fonetik Fisiologis
Fonetik fisiologis adalah suatu bidang ilmu oengetahuan yang mengkaji tentang fungsi fisiologis manusia (Liberman, 1977 : 3). Seseorang yang ingin mengkaji bunyi-bunyi behasa harus mengetahuai juga berbagai struktur mekanisme peraturan, memehami fungsi setiap mekanisme tersebut, dan peranan nya dalam menggasilkan berbagai bunyi behasa (Singh dan Singh, 1876 : 2). Fonetik yang menkaji tentang penghasilan bunyi-bunyi bahasa berdasarkan fungsi mekanisme biologis organ tutur manusia di namakan fonetik fidiologis.
  1. Fonetik Akustik
Kajian fonetik akustik bertumpu pada struktur fungsi bunyi-bunyi bahasa dan bagaiman alat pendengaran manusia memberikan reaksi kepada bunyi-bunyi bahasa yang di teriman (Mallberg, 1963 : 1).ada tiga ciri untama bunyi-bunyi bahasa fonetik akustik, yaitu frekuensi, tempo, kenyaringan.
  1. Fonetik Audiotoris Atau Fonetik Persepsi
Kajian ini meneliti bagaimana seorang pendengar menanggapi bunyi-bunyi yang di terima sebagai bunyu-bunyi yang perlu dip roses sebagai bunyi-bunyi bahasa bermakna, dan apakah cirri bunyi-bunyi bahasa dianggap penting oleh pendengar dalam usaha untuk membedakan setiap bunyi bahasa yang di dengar (Singh dan Singh, 1976, 5).


Ketidak lancaran Berujar yang Terkait dengan Kajian Fonetik
Masalah ketidaklancaran berujar oleh penutur ini dapat dilihat dari segi atau keadaan kelemahan organ pertuturannya, keadaan suaranya (terutama dari segi nada dan kenyaringan), dan kelancarannya berujar (Thomas dan carmack, 1990:2). Permasalahannya ini bisa disebabkan oleh kegagapan (stuttering),  kelumpuhan saraf otak (cerebral palsied), belahan langit-langit mulut, rusak pendengaran (hearing impaired).
  1. Kagagapan (Stuttering)
Menurut Ainsworth (1975), gagap merupakan salah satu permasalahan yang berhubungan dengan ketidak lancaran ketika berbahasa, yang di alamai oleh seorang penutur.
Ciri-ciri kegagapan adalah:
  1. Pemandekan (atau kemendekan) merujuk kapada ketidak mampuan penutur untuk menggerakan atau mengawali gerak articulator-artkulator pertuturan untuk menghasilkan suatu perkataan yang di kehendaki.
  2. Pemanjangan merujuk kepada keadaan memanjangkan bunyi dalam jangka waktu yang lebih lama di bendingkan dengan jangka waktu normal.
  3. Pengulangan merujuk pada keadaan mengulang secara berturut-turut bunyi-bunyi
  4. tertentu dala suku kata, frase atau kalimat ketika d ujarkan dalam suatu percakapan.
  1. Kelumpuhan Saraf Otak (Cerebol Palsied)
Istilah "kelumpuhan otak" merujuk pada kecederaan di bagian tengah system nervours otak manusia, yang mengakibatkan proses arahan dan perpisahan dari otak ke saraf penggerek yang mendorong pergerakan anggota tubuh sangat lemah bahkan tidak berfungsi (Mysak, 1990 : 499-500). Dalam kasus ini, fonetisi berusaha membantu penutur yang mengalami kelumpuhan saraf otak ini untuk berlatih menggerakan artikulator-artikulator ke posisi yang tepat sesuai dengan bunyi bahasa yang di hasilkan
  1. Belahan Langit-Langit Mulut
Berdasarkan pemahaman tentang keadaan articulator dan titik artikulasi serta tekanan dan aliran rongga mulut/hidung, penutur yang mempunyai belahan lengit-langit mulut ini, ahli fonetik bias mencoba membantu memperbaiki kualitas bunyi yang di hasilkan.
  1. Rusak Pendengaran (Hearing Impaired)
Penutur yang mempunyai kualitas pendengaran yang rendah berkemngkinan gagal untuk mengenal dengan beik bunyi-bunyi yang berfrekuensi tinggi, misalnya bunyi [s] dan [f]. karena itu dia akan menghadapi masalah ketika memahai perkataan dalam suatu ujaran yang mengandung bunyi-bunyi yang berfrekuensi tinggi tersebut. (Thomas dan Carmach, 1990 : 24).

Kondisi Kajian Fonetik
1. Kajian fonetik di Barat
                 Di Barat, kajian linguistik dilakukan dengan cara scientific atau ilmiah. Berbagai alat pemeriksaan, penyelidikan, dan percobaan diadakan. Banyak hasil diperoleh dari penyelidikan ini. Selama ini, kajian fonetik ilmiah ini belum berkembang dengan baik. Hasil kajian hanya memberikan penjelasan kepada kita mengenai bagaimana gerakan alat-alat bicara dan hasil-hasil yang diperolehnya. Penjelasan-penjelasan ini belum sampai kepada kegunaan praktis dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, termasuk miasalnya bagaimana menangani penutur yang mempunyai cacat wicara.
2. Sejarah Perkembangan kajian fonetik
Pengkajian fonetik ditangani secara serius sejak terbentuknya International Phonetic Assosiation (IPA) pada tahun 1886 di Barat, walaupun buku-buku yang membicarakan bunyi bahasa telah terbit sejak tahun 1569.
Walaupun IPA terbentuk tahun 1886, di Inggris sendiri pengkajian fonetik digeluti secara intensif mulai tahun 1907, yaitu setelah University of London mengakui usaha-usaha Daniel Jones (seorang pakar fonetik Inggris terkenal) dan melantiknya sebagai dosen dalam pengkajian fonetik di University Callage.
Dengan terbentuknya Asosiasi Fonetik Internasional ini banyak kemajuan yang dihasilkan, terutama antara tahun 1910-1930. di antara mereka merasa perlu pertemuan para fonetesi dunia. Akhirnya, berlangsunglah kongres pertama dengan nama “international Conggress of Phonetic Sciences” pada tahun 1932 di Amsterdam. Kongres yang kedua diadakan di London pada tahun 1935, yang dihadiri oleh 262 orang ahli dari 29 negara. Kongres ketiga diadakan di Ghent (Belgia) pada tahun 1938 yang dihadiri 273 orang ahli dari 18 lembaga dan persatuan, 38 universitas, dan 32 negara. Sejak itulah telah banyak buku dan artikel mengenai fonetik yang terbit. Semua tulisan tersebut berpatokan pada prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh IPA.

BEBERAPA TOKOH ILMU FONETIK
1.  Bertil Malmberg
Bertil Malmberg (1968), seorang fonetisi Prancis, mendefinisikan fonetik sebagai pengkajian bunyi-bunyi bahasa. Fonetik adalah pengkajian yang lebih menitikberatkan pada ekspresi bahasa, bukan isinya. Yang dipentingkan adalah bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan penutur, bukan makna yang ingin disampaikan.
Menurut Bertil Malmberg, ilmu fonetik bisa dibagi menjadi empat cabang, yaitu sebagai berikut:
-          ilmu fonetik umum: mengkaji terhadap penghasilan bunyi-bunyi dan fungsi mekanisme ucapan.
-          Ilmu fonetik deskriptif: mengkaji terhadap kelainan atau perbedaan bunyi bagi suatu bahasa tertentu.
-          Ilmu fonetik sejarah: mengkaji terhadap perubahan bunyi suatu bahasa berdasarkan sejarah bahasa tersebut.
-          Ilmu fonetik normatif: mengkaji terhadap kaidah bunyi yang benar pada suatu bahasa.
2. J.D. O'Connor     
Menurut O’Connor fonetik ialah ilmu yang bersangkut paut dengan bunyi-bunyi ujar yang di hasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi-bunyi yang dapat didengar ini kemudian diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang terdapat dalam bahasa masyarakat yang bersangkutan. Seterusnya, formula bunyi-bunyi ini diberi “fungsi” tertentu sehingga dapat dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu.
Menurut O’Connor, tingkah laku berkomunikasi berawal dari otak pembaca. Pada tahap ini, kita bisa beranggapan bahwa otak penutur mempunyai dua fungsi yang berbeda, yaitu fungsi kreatif (creative function) dan fungsi saluran (forwarding function).
3. David Abercromcie
David Abererombie (1971) berpendapat bahwa fonetik ialah ilmu yang bersifat teknis. Dalam ilmu ini, suatu bahasa akan dilihat secara analitis, yaitu tidak saja mendengar percakapan, tetapi juga menyadari setiap gerak jasmani yang melatarbelakanginya.
Sewaktu kita bernapas misalnya, udara tidak dikeluarkan terus-menerus. Aliran uadara tidak berkelanjutan. Otot pernapasan tegang dan kendur berulang-ulang dalam satu pernapasan yang panjang. Rata-rata gerakan tegang-kendur otot pernapasan adalah lima kali dalam satu detik atau 300 kali dalam satu menit. Udara dikeluarkan dari paru-paru setiap kali hembusan.

SKOP (BIDANG CAKUPAN), TUGAS, DAN TANGGUNG JAWAB FONETISI
Fonetisi lebih berminat untuk melihat bagaimana pergerakan udara di hubungkan dengan pergerakan organ-organ pertuturan dan koordinasi semua pergerakan ini sehingga menghasilkan bunyi. Yang diperhatikan fonetisi adalah pergerakan lidah, rahang, bibir, dan sebagainya ketika menghasilkan bunyi bahasa dengan bentuk alat sinar-X (X-ray).
Fonetisi juga berminat bagaimana arus udara bergetar antara mulut penutur dan telinga pendengar. Bidang fonetik ini berkaitan dengan bidang ilmu fisika yang mengkaji masalah akustik. Alat-alat yang digunakan adalah alat yang biasa digunakan oleh ahli fisika, yaitu spektogram. Tujuan umum penggunaan alat ini adalah untuk mengukur kekerapan atau frekuensi dan luas getaran bunyi dalam jangka waktu tertentu. Pengkajian ini dikenal dengan pengkajian fonetik akustik.