WELCOME...*** Eva Harista BLOG

Bismillahirrohmanirrohiiiim….

Alhamdulillah, alladzi ‘allamana bil qalam, ‘allamal insana maa’lam ya’lam...
Puji syukur hamba semoga selalu tercurahkan pada Allah SWT, yang telah mengajari manusia dengan pena. Dia lah yang mengajari manusia apa yang tidak mereka ketahui...

Jumat, 23 Desember 2011

FONETIK SECARA UMUM

Fonetik dan Bidang Kajiannya
Fonetik merupakan bidang kajian ilmu pengetahuan (science) yang menelaah bagaimana manusia menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dalam ujaran, menelaah gelombang-gelombang bunyi bahasa yang dikeluarkan, dan bagaimana alat pendengaran manusia menerima bunyi-bunyi bahasa untuk dianalisis oleh otak manusia (O’Connor, 1982: 10-11), (Ladefoged, 1982: 1). Menurut Gorys Keraf (1978), fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi dengan alat ucap manusia.
Menurut Clark dan Yallop (1990), fonetik merupakan bidang yang berkaitan erat dengan kajian bagaimana cara manusia berbahasa serta mendengar dan memproses ujaran yang diterima. Lebih lanjut, fonetik ini sangat berguna untuk tujuan-tujuan seperti pengajaran diksi, penguasaan ujaran bunyi-bunyi bahasa asing, perbaikan kualitas bertutur bagi mereka yang menghadapi masalah kurang daya pendengarannya.
Secara umum, fonetik dapat dibagi menjadi tiga bidang kajian, yaitu fonetik fisiologis, fonetik akustik, dan fonetik auditoris atau fonetik persepsi (Dew dan Jensen, 1977:19).


  1. Fonetik Fisiologis
Fonetik fisiologis adalah suatu bidang ilmu oengetahuan yang mengkaji tentang fungsi fisiologis manusia (Liberman, 1977 : 3). Seseorang yang ingin mengkaji bunyi-bunyi behasa harus mengetahuai juga berbagai struktur mekanisme peraturan, memehami fungsi setiap mekanisme tersebut, dan peranan nya dalam menggasilkan berbagai bunyi behasa (Singh dan Singh, 1876 : 2). Fonetik yang menkaji tentang penghasilan bunyi-bunyi bahasa berdasarkan fungsi mekanisme biologis organ tutur manusia di namakan fonetik fidiologis.
  1. Fonetik Akustik
Kajian fonetik akustik bertumpu pada struktur fungsi bunyi-bunyi bahasa dan bagaiman alat pendengaran manusia memberikan reaksi kepada bunyi-bunyi bahasa yang di teriman (Mallberg, 1963 : 1).ada tiga ciri untama bunyi-bunyi bahasa fonetik akustik, yaitu frekuensi, tempo, kenyaringan.
  1. Fonetik Audiotoris Atau Fonetik Persepsi
Kajian ini meneliti bagaimana seorang pendengar menanggapi bunyi-bunyi yang di terima sebagai bunyu-bunyi yang perlu dip roses sebagai bunyi-bunyi bahasa bermakna, dan apakah cirri bunyi-bunyi bahasa dianggap penting oleh pendengar dalam usaha untuk membedakan setiap bunyi bahasa yang di dengar (Singh dan Singh, 1976, 5).


Ketidak lancaran Berujar yang Terkait dengan Kajian Fonetik
Masalah ketidaklancaran berujar oleh penutur ini dapat dilihat dari segi atau keadaan kelemahan organ pertuturannya, keadaan suaranya (terutama dari segi nada dan kenyaringan), dan kelancarannya berujar (Thomas dan carmack, 1990:2). Permasalahannya ini bisa disebabkan oleh kegagapan (stuttering),  kelumpuhan saraf otak (cerebral palsied), belahan langit-langit mulut, rusak pendengaran (hearing impaired).
  1. Kagagapan (Stuttering)
Menurut Ainsworth (1975), gagap merupakan salah satu permasalahan yang berhubungan dengan ketidak lancaran ketika berbahasa, yang di alamai oleh seorang penutur.
Ciri-ciri kegagapan adalah:
  1. Pemandekan (atau kemendekan) merujuk kapada ketidak mampuan penutur untuk menggerakan atau mengawali gerak articulator-artkulator pertuturan untuk menghasilkan suatu perkataan yang di kehendaki.
  2. Pemanjangan merujuk kepada keadaan memanjangkan bunyi dalam jangka waktu yang lebih lama di bendingkan dengan jangka waktu normal.
  3. Pengulangan merujuk pada keadaan mengulang secara berturut-turut bunyi-bunyi
  4. tertentu dala suku kata, frase atau kalimat ketika d ujarkan dalam suatu percakapan.
  1. Kelumpuhan Saraf Otak (Cerebol Palsied)
Istilah "kelumpuhan otak" merujuk pada kecederaan di bagian tengah system nervours otak manusia, yang mengakibatkan proses arahan dan perpisahan dari otak ke saraf penggerek yang mendorong pergerakan anggota tubuh sangat lemah bahkan tidak berfungsi (Mysak, 1990 : 499-500). Dalam kasus ini, fonetisi berusaha membantu penutur yang mengalami kelumpuhan saraf otak ini untuk berlatih menggerakan artikulator-artikulator ke posisi yang tepat sesuai dengan bunyi bahasa yang di hasilkan
  1. Belahan Langit-Langit Mulut
Berdasarkan pemahaman tentang keadaan articulator dan titik artikulasi serta tekanan dan aliran rongga mulut/hidung, penutur yang mempunyai belahan lengit-langit mulut ini, ahli fonetik bias mencoba membantu memperbaiki kualitas bunyi yang di hasilkan.
  1. Rusak Pendengaran (Hearing Impaired)
Penutur yang mempunyai kualitas pendengaran yang rendah berkemngkinan gagal untuk mengenal dengan beik bunyi-bunyi yang berfrekuensi tinggi, misalnya bunyi [s] dan [f]. karena itu dia akan menghadapi masalah ketika memahai perkataan dalam suatu ujaran yang mengandung bunyi-bunyi yang berfrekuensi tinggi tersebut. (Thomas dan Carmach, 1990 : 24).

Kondisi Kajian Fonetik
1. Kajian fonetik di Barat
                 Di Barat, kajian linguistik dilakukan dengan cara scientific atau ilmiah. Berbagai alat pemeriksaan, penyelidikan, dan percobaan diadakan. Banyak hasil diperoleh dari penyelidikan ini. Selama ini, kajian fonetik ilmiah ini belum berkembang dengan baik. Hasil kajian hanya memberikan penjelasan kepada kita mengenai bagaimana gerakan alat-alat bicara dan hasil-hasil yang diperolehnya. Penjelasan-penjelasan ini belum sampai kepada kegunaan praktis dalam kehidupan berbahasa sehari-hari, termasuk miasalnya bagaimana menangani penutur yang mempunyai cacat wicara.
2. Sejarah Perkembangan kajian fonetik
Pengkajian fonetik ditangani secara serius sejak terbentuknya International Phonetic Assosiation (IPA) pada tahun 1886 di Barat, walaupun buku-buku yang membicarakan bunyi bahasa telah terbit sejak tahun 1569.
Walaupun IPA terbentuk tahun 1886, di Inggris sendiri pengkajian fonetik digeluti secara intensif mulai tahun 1907, yaitu setelah University of London mengakui usaha-usaha Daniel Jones (seorang pakar fonetik Inggris terkenal) dan melantiknya sebagai dosen dalam pengkajian fonetik di University Callage.
Dengan terbentuknya Asosiasi Fonetik Internasional ini banyak kemajuan yang dihasilkan, terutama antara tahun 1910-1930. di antara mereka merasa perlu pertemuan para fonetesi dunia. Akhirnya, berlangsunglah kongres pertama dengan nama “international Conggress of Phonetic Sciences” pada tahun 1932 di Amsterdam. Kongres yang kedua diadakan di London pada tahun 1935, yang dihadiri oleh 262 orang ahli dari 29 negara. Kongres ketiga diadakan di Ghent (Belgia) pada tahun 1938 yang dihadiri 273 orang ahli dari 18 lembaga dan persatuan, 38 universitas, dan 32 negara. Sejak itulah telah banyak buku dan artikel mengenai fonetik yang terbit. Semua tulisan tersebut berpatokan pada prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh IPA.

BEBERAPA TOKOH ILMU FONETIK
1.  Bertil Malmberg
Bertil Malmberg (1968), seorang fonetisi Prancis, mendefinisikan fonetik sebagai pengkajian bunyi-bunyi bahasa. Fonetik adalah pengkajian yang lebih menitikberatkan pada ekspresi bahasa, bukan isinya. Yang dipentingkan adalah bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan penutur, bukan makna yang ingin disampaikan.
Menurut Bertil Malmberg, ilmu fonetik bisa dibagi menjadi empat cabang, yaitu sebagai berikut:
-          ilmu fonetik umum: mengkaji terhadap penghasilan bunyi-bunyi dan fungsi mekanisme ucapan.
-          Ilmu fonetik deskriptif: mengkaji terhadap kelainan atau perbedaan bunyi bagi suatu bahasa tertentu.
-          Ilmu fonetik sejarah: mengkaji terhadap perubahan bunyi suatu bahasa berdasarkan sejarah bahasa tersebut.
-          Ilmu fonetik normatif: mengkaji terhadap kaidah bunyi yang benar pada suatu bahasa.
2. J.D. O'Connor     
Menurut O’Connor fonetik ialah ilmu yang bersangkut paut dengan bunyi-bunyi ujar yang di hasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi-bunyi yang dapat didengar ini kemudian diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang terdapat dalam bahasa masyarakat yang bersangkutan. Seterusnya, formula bunyi-bunyi ini diberi “fungsi” tertentu sehingga dapat dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu.
Menurut O’Connor, tingkah laku berkomunikasi berawal dari otak pembaca. Pada tahap ini, kita bisa beranggapan bahwa otak penutur mempunyai dua fungsi yang berbeda, yaitu fungsi kreatif (creative function) dan fungsi saluran (forwarding function).
3. David Abercromcie
David Abererombie (1971) berpendapat bahwa fonetik ialah ilmu yang bersifat teknis. Dalam ilmu ini, suatu bahasa akan dilihat secara analitis, yaitu tidak saja mendengar percakapan, tetapi juga menyadari setiap gerak jasmani yang melatarbelakanginya.
Sewaktu kita bernapas misalnya, udara tidak dikeluarkan terus-menerus. Aliran uadara tidak berkelanjutan. Otot pernapasan tegang dan kendur berulang-ulang dalam satu pernapasan yang panjang. Rata-rata gerakan tegang-kendur otot pernapasan adalah lima kali dalam satu detik atau 300 kali dalam satu menit. Udara dikeluarkan dari paru-paru setiap kali hembusan.

SKOP (BIDANG CAKUPAN), TUGAS, DAN TANGGUNG JAWAB FONETISI
Fonetisi lebih berminat untuk melihat bagaimana pergerakan udara di hubungkan dengan pergerakan organ-organ pertuturan dan koordinasi semua pergerakan ini sehingga menghasilkan bunyi. Yang diperhatikan fonetisi adalah pergerakan lidah, rahang, bibir, dan sebagainya ketika menghasilkan bunyi bahasa dengan bentuk alat sinar-X (X-ray).
Fonetisi juga berminat bagaimana arus udara bergetar antara mulut penutur dan telinga pendengar. Bidang fonetik ini berkaitan dengan bidang ilmu fisika yang mengkaji masalah akustik. Alat-alat yang digunakan adalah alat yang biasa digunakan oleh ahli fisika, yaitu spektogram. Tujuan umum penggunaan alat ini adalah untuk mengukur kekerapan atau frekuensi dan luas getaran bunyi dalam jangka waktu tertentu. Pengkajian ini dikenal dengan pengkajian fonetik akustik.

Senin, 19 Desember 2011

Untuk Perempuan

PETUAH PERNIKAHAN UNTUK PARA PEREMPUAN

Menjelang pernikahan sebuah pertanyaan besar muncul dalam benak ini. Seperti apakah kriteria istri idaman para suami? Mampukah aku menjadi istri yang baik untuk suami? Bahkan pertanyaan besar lagi, mampukah aku menjadi istri teladan bagi istri-istri yang lain suatu saat nanti?
Tentunya para perempuan lain pun baik yang belum, akan dan telah menikah memiliki pertanyaan yang tidak berbeda jauh. Setiap perempuan sejatinya ingin menjadi istri yang mampu membahagiakan suami lahir batin.
Begitupun aku, walau yang ku jalani sekarang masih jauh dari sempurna dalam pengabdianku pada suami dalam usia pernikahan kami yang baru genap tujuh bulan. Batin ini semakin merasa bersalah karena saat ini belum mampu mengabdi secara utuh kepada suami, karena adanya jarak dan waktu diantara kami.
Akan tetapi aku akan berusaha dan tak akan pernah berhenti belajar untuk menjadi istri sholehah, istri yang baik, memperbaiki hal yang kurang baik dan menambah segala kekurangan yang pernah terjadi. Berbahagialah kalian para istri yang selalu dekat dengan suami, yang tidak terpisah oleh jarak dan waktu, tentunya kalian bisa mengabdi sepenuhnya kepada suami tercinta.
 Ku teringat sebuah nasehat menjelang pernikahanku. Nasehat ini juga sangat penting bagi semua perempuan yang belum, akan dan telah menikah.
Yang terpenting dalam rumah tangga adalah kamu harus mampu membawa diri, nak!
Mambawa diri yang bagaimana…?
Jika suamimu tak mempunyai bekal ilmu agama yang cukup, maka bagaimana untuk mengajaknya belajar bersama tentang ilmu agama. Karena ilmu agama adalah pondasi yang kuat dalam rumah tangga.
Jika suamimu seorang pemimpin, maka bagaimana untuk menempatkan dirimu agar juga berjiwa pemimpin, dan untuk bisa menggali potensimu agar tidak menjadi perempuan yang lemah. Karena pemimpin adalah contoh teladan bagi masyarakat, begitupun menjadi seorang istri pemimpin.
Jika suamimu seorang ustadz, maka bagaimana untuk membekali pengetahuan dirimu dengan terus belajar tentang ilmu agama, terus memperbaiki kekurangan yang ada padamu. Karena seorang ustadz adalah suri tauladan yang baik, begitu juga seorang istrinya.
Jika suamimu kaya, maka bagaimana untuk  memahami dan menghormati gaya hidupnya yang berbeda darimu sebagai orang biasa.

Jika suamimu orang kampung, maka bagaimana untuk bijak menyesuaikan diri dengan suasana kekampungan dan tidak serta merta menyinggungnya dengan kebiasaanmu yang orang kota.

Jika suamimu bijak atau berijazah hingga S3 atau Profesor,  maka bagaimana untuk membina kecerdasan dirimu agar kamu tidak seperti orang bodoh yang tidak mempuyai ilmu.

Jika suamimu miskin atau berpangkat lebih rendah, maka bagaimana untuk bisa merendahkan hatimu dan bergaul mesra dengannya, agar dia tidak merasa tertinggal di belakang istri, karena selamanya seorang suami tetaplah sebagai pemimpin rumah tangga yang harus ditaati dan dihormati.

Jika suamimu seorang pendiam, maka bagaimana untuk bisa mencairkan suasana rumahmu biar terasa hidup dan penuh canda tawa.

Jika suami sebaya atau lebih muda, maka bagaimana untuk taat dan redha dengan keputusannya, karena usia tidak menentukan kedewasaan seseorang.

Jika suami lebih tua, maka bagaimana untuk memahami dan meletakkan diri sejajar dengan banyak pengalaman dan pengetahuannya.

Maka pandai-pandailah kamu membawa diri, walau siapapun lelaki yang akan atau telah dipilihkan Allah untukmu. Yakin bahwa dialah yang terbaik untukmu, tinggal bagaimana kamu sebagai isteri siap menerima segala kekurangan dan kelebihan darinya, maka kamu akan menjadi isteri idaman bagi suami, insyaallah. Menjadi isteri yang bahagia bukan dengan mengharap, dan banyak menerima, namun dengan banyak memberi tanpa ia minta, dan terus mencari kebaikan dalam setiap sisi kehidupan.

Sekian, semoga bermanfaat untuk para perempuan yang merindukan menjadi istri idaman dan tauladan.




CATATAN HATI



Ku kirim senandung Al_fatihah, terkadang malamku tanpa bintang…**

Perjalanan hidup hari demi hari membawaku pada sebuah pilihan. Seuntai kata bijak memang benar adanya, ternyata hidup tak lepas dari sebuah pilihan. Walau keputusan itu atas kesepakatan berdua dan dengan pemikiran yang panjang, tapi tetap saja membuatku masih merasa belum bisa menjadi seorang isteri yang baik.
Awal rencana memang seharusnya aku dan suami melanjutkan studi S2 kami bersama di luar. Akan tetapi, dia belum diberi izin dari tempatnya bekerja. Ini sungguh pilihan berat bagiku. Bagaimana tidak belum genap tiga bulan pernikahan, kami harus berpisah karena aku melanjutkan kuliah di luar daerah. Walaupun suami sangat mendukung, tapi setelah ku jalani hari demi hari tanpanya, malam-malamku tanpa bintang, seakan dunia terasa hampa. Ribuan kata mesra dari sms  dan telpon bergulir setiap saat, tapi tetap saja rindu selalu menggebu. Sebulan sekali pertemuan itu, menjadi hari-hari yang berharga untuk kami. Beruntunglah bagi kalian para isteri yang tidak dipisahkan oleh jarak dan waktu dengan suami tercinta, mengabdilah padanya sebaik mungkin yang kalian bisa.


Tapi bukan itu sesungguhnya yang membuat hatiku gusar. Ada panggilan jiwa dari hatiku yang paling dalam sebagai seorang isteri. Aku seakan merasa bersalah padanya karena tidak bisa setiap hari memberikan keteduhan dan kedamaian disisinya. Walau ia tak pernah menuntut apapun dariku, hanya dengan inisiatif ku sendirilah berusaha terus memberi walau tak pernah ia minta. Kini, dalam sekian waktu yang cukup lama kami tak bisa lagi setiap waktu bersama, melayani dan menyiapkan semua kebutuhannya, memasak untuknya, mencuci pakaiannya, hingga membersihkan wajahnya dan membasuh kakinya sebelum tidur, tidak bisa solat berjamaah dengannya, ibadahpun terasa kurang sempurna. Aku rindu semua itu. Pengabdianku jauh dari sempurna, hanya karena keikhlasan dan keridhoan hati suamiku lah, hingga detik ini aku masih mampu berjuang menyelesaikan studiku. Terimakasih abang atas semangat itu. Tunggu aku pulang, hingga ku benar-benar menyempurnakan pengabdianku kepadamu.
Terlepas dari semua itu, ada hal lain yang mengganjal dibatinku. Biasanya suami yang meninggalkan isteri untuk bekerja atau kuliah. Tapi yang terjadi padaku justru sebaliknya. Aku sungguh takut Allah dan Nabi marah padaku. Akupun mencari tahu tentang hadist hukum seorang wanita meninggalkan rumah untuk mencari ilmu dan aku tak lelah bertanya pada orang tentang hal ini. Hingga ku dapati jawaban itu dan sedikit meneduhkan jiwaku.
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman, mengatakan bahwa; Adapun apabila seorang wanita safar (berpergian) bersama mahramnya, tinggal di tempat yang aman, tidak melakukan safar kecuali bersama mahramnya, tidak campur baur dengan laki-laki, untuk menuntut ilmu syar’i dan menjauhi fitnah, maka hal itu diperbolehkan karena termasuk kewajiban wanita adalah menuntut ilmu. Para sahabat dahulu juga pergi ke rumah-rumah para istri Nabi untuk masalah-masalah penting dan mereka juga belajar kepada para sahabat wanita, bahkan imam Az-Zarkasyi menulis sebuah kitab yang tercetak berjudul “Al-Ijabah Lima Istadrakathu Sayyidah Aisyah ‘Ala Shahabah” (Beberapa kritikan Aisyah kepada sahabat).
Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.”
Dan Ingatlah selalu wejangan Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam kepada Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ,
احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
“Jagalah (batasan-batasan) Allah niscaya Allah akan senantiasa menjagamu. Jagalah (batasan-batasan) Allah niscaya engkau akan mendapati Allah di hadapanmu.”
Hal yang selalu ku ingat adalah pesan Nabi kepada Fatimah. Ya fatimah... yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keredhaan suami terhadap isteri. andai kata suami mu tidak redha kepada mu maka aku tidak akan mendoakan mu. ketahuilah wahai fatimah kemarahan suami adalah kemurkaan Allah swt.
Terimakasih suamiku atas keridhoanmu dan keikhlasanmu. Kan ku ingat selalu pesanmu untuk selalu menjaga kesucian diri. Aku mencintaimu karena Allah. Semoga Allah akan segera mempertemukan kita dan selalu menyatukan hati kita kapanpun dan dimanapun. Semua akan indah pada waktunya…***
“Ya Allah Yang Maha Pengasih, terima kasih atas cinta kasihMU.. Yang menghadirkan cinta antara diriku dan suami. Jadikan kami bersyukur dengan kebersamaan. Jadikan kami sabar yang teguh dengan perpisahan. Peliharalah diri seorang isteri ini, peliharalah suamiku – akhlak kami, iman kami, kehidupan kami di dunia dan akhirat…
Izinkan kami merasa bahagia dalam perpisahan. Izinkan cinta kami berlanjutan kekal selamanya di akhirat sana.
Semoga misi dan destinasi hidup yang jelas membawa pernikahan dan percintaan kita ke teduhan kasih Ilahi di dunia dan di syurga…
Amien Ya Robb..***